Senin, 04 April 2016

MIRIS! Puluhan Siswa Belajar di Bekas Kandang Ayam

Puluhan Siswa Belajar di Bekas Kandang Ayam

foto: Okezone

CIANJUR - Puluhan siswa Diniyah dan PAUD di Kampung Angsa, Desa Ciantaasih, Kecamatan Gekbrong, Cianjur, Jawa Barat, terpaksa belajar di bekas kandang ayam. Pasalnya, sejak berdiri hingga saat ini bangunan sekolah belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
Kondisi bangunan yang sudah tua mengakibatkan pihak sekolah terpaksa memulangkan siswanya saat hujan tiba. Hal ini dilakukan mengingat sekolah tidak berani mengambil risiko jika siswa yang tengah menjalani proses belajar mengajar tertimpa atap bangunan yang sudah rapuh.
"Kami mendirikan sekolah ini karena terdorong dari tingginya minat anak usia sekolah di wilayah ini untuk dapat terus mengenyam pendidikan dan tidak putus sekolah karena faktor ekonomi orang tua yang sulit," kata Dadan Sasmita pendiri DTA Alimanihtada dan PAUD Tunas Asih 1, di Cianjur, Minggu.
Sebelumnya, sejak 2005 puluhan anak putus sekolah kerap belajar di rumah miliknya, namun atas keinginan untuk mendirikan sekolah, pada 2011 seorang pengusaha di wilayah tersebut, menghibahkan tanah miliknya yang sudah ada kandang ayam di atasnya.
"Meskipun berbentuk kandang ayam awalnya, kami menyulap bangunan tersebut menjadi tempat kegiatan belajar mengajar untuk siswa Diniyah dan PAUD. Keterbatasan dana membuat kami terpaksa hanya merehab sebisanya, di mana ruang kelas masih berlantai tanah merah berdinding bilik anyam," katanya.
Saat ini, jumlah siswa DTA Alimanihtada, tutur dia, mencapai 90 orang dan siswa PAUD Tunas Asih 1 berjumlah 67 orang. Sedangkan ruangan kelas yang dimiliki hanya dua ruangan, sehingga saat menjalani proses belajar mengajar siswa terpaksa harus berdesakan di dalam ruangan kandang ayam yang disulap menjadi ruang kelas itu.
"Semakin bertambahnya jumlah siswa di sekolah ini, semakin sempit ruang kelas yang kami sediakan. Bahkan selama proses belajar mengajar, tidak sedikit siswa harus belajar di lantai dan di luar kelas," katanya.
Bahkan, ketika musim penghujan tiba, tidak jarang siswa dipulangkan dan sekolah diliburkan karena bangunan sekolah bekas kandang ayam tersebut, rentan ambruk dan sebagian besar atap bangunan bocor.
Dadan sekaligus Kepala DTA Alimanihtada itu, mengatakan, keterbatasan ruang kelas dan jumlah siswa yang terus bertambah, membuat pihaknya membagi jam masuk siswa, yaitu untuk PAUD belajar pada pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB, sedangkan siswa DTA masuk siang hari.
"Kami berharap, ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki bangunan DTA dan PAUD ini karena anak-anak di sini sangat membutuhkan pendidikan. Terbukti setiap tahun jumlah siswa kami terus bertambah, sementara ruang kelas dan bangunan tidak memadai," katanya.
Sumber: http://news.okezone.com/

0 komentar:

Posting Komentar